Followers

Tuesday, April 19, 2011

bergurulah dengan burung dalam mencari rezeki

Berguru Kepada Burung Dalam Mencari Rezeki Articles | Mimbar Jumat Written by Edy Rachmad on Friday, 25 March 2011 07:02  

<!-- -->
Rasulullah SAW bersabda : Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung, mereka berangkat pagi-pagi, dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. At-Turmuzi)

Hadis di atas diriwayatkan oleh At-Turmuzi di dalam bab bertawakkal kepada Allah, hadis no.2344 di dalam kitab Tuhfazul Ahwazi Syarah Jami’ Turmuzi, prihal Tauhid dalam berusaha mencari nafkah dengan bertawakkal kepada Allah SWT sembari mengikuti sebab-sebab untuk mendatangkan rezeki kendatipun harus belajar dengan seekor burung.

Penekanan di dalam hadis di atas adalah persoalan aqidah di dalam menjalankan usaha sehari-hari, bahwa yang mendatangkan rezeki sebenarnya adalah Allah SWT, bukan pekerjaan itu sendiri. Artinya aqidah tidak hanya diperlukan untuk ibadah semata, seperti diduga oleh banyak orang, akan tetapi akidah diperlukan pada semua aspek hingga dalam mencari rezeki sehari-hari, sehingga rutinitas pekerjaan sehari-hari tetap bernilai ibadah dan jihad di sisi Allah SWT.

Substansi akidah yang dimaksud di dalam konteks ini adalah bertawakkal kepada Allah SWT, dengan mengoptimalkan segala kemampuan fisik, bekerja keras, dan tidak menyerah, selalu belajar dengan pekerjaan yang dijalani itu sendiri.
Dengan demikian tawakkal tidaklah dipahami sebagai sikap pasif seperti menanti hujan turun dari langit, selayaknya seperti seekor burung yang melakukan rutinitasnya, bangun di pagi hari sebelum mata hari terbit, bahkan sebelum pajar terbit burung-burung sudah lebih dahulu bangun. Lihatlah ayam jantan yang berkokok membangunkan keluarganya untuk segera bergegas mencari nafkah dipagi hari sebelum majikannya bangun.

Burung akan menghentakkan kakinya sebelum berangkat meninggalkan sarangnya untuk melepaskan dari gravitasi bumi. Tidak pernah burung berdiam diri di sarangnya terkecuali ia masih kecil atau sedang sakit. Tidak pernah ditemukan burung menganggur karena tidak ada pekerjaan, paling tidak dia mengikuti induknya belahar bagaimana cara mendapatkan makanan.

Burung sebelum meninggalkan sarang, ia mengepakkan sayapnya sekuat tenaga agar bisa terbang. Burung tidak pernah melipatkan sayap/ berpangku tangan, menanti pemberian orang, meskipun burung yang tidak dapat terbang seperti ayam, paling tidak dia mengais-ngaiskan kakinya untuk mendapat rezeki.

Dengan menggunakan instinct nya, burung terbang dengan ikhlas berpuluh-puluh kilometer meninggalkan sarangnya tanpa memakai “kompas” dan yang menakjubkan tidak pernah mereka tersesat meskipun mereka terbang dari satu pulau ke pulau yang lain. Mereka tau di mana tempat yang tandus tidak punya apa-apa dan di mana pula tempat yang subur yang banyak makanan. Allah SWT memberikan kelebihan kepada burung berupa instinct yang tajam, sehingga mereka dapat melangsungkan kehidupannya.

Di saat terbang, burung dapat bertahan di udara berjam-jam lamanya. Mereka tidak takut kehilangan stok udara untuk menopang sayapnya dan tidak takut kehabisan “bahan bakar” untuk terbang. Burung tetap terbang kesana kesini tanpa khawatir sedikitpun tidak dapat rezeki. Yang dia lakukan tetap berusaha terbang dan terbang menjelajah mencari dan mencari.

Setelah melakukan semua ikhtiar, burung pulang di sore hari dengan perut yang buncit berisi makanan untuk keluarganya yang menanti. Setelah di pagi hari meninggalkan sarangnya hanya dengan perut yang kosong .

Tradisi di atas dilakukan oleh burung setiap hari dengan tekun dan ikhlas tanpa ada keluhan, dan itu diwarisi kepada anak-anaknya secara turun temurun dengan berbekal instinct semata untuk menjalani kehidupan ini. Maha Suci Allah SWT yang menjadikan. cara hidup komunitas burung yang pantas untuk dicontoh oleh manusia yang bukan hanya dibekali oleh instinct seperti halnya burung, tetapi lebih dari itu, dibekali akal dan ilmu pengetahuan untuk melangsungkan kehidupan mereka.

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. Al-Mulk : 19)
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari komunitas burung adalah tawakkal menyerahkan urusannya kepada Allah SWT dengan melakukan kerja keras dan segala ikhtiar serta berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT, sejatinya itu merupakan sifat dari manusia, karena tawakkal adalah pekerjaan hati manusia yang merupakan puncak tertinggi keimanan seseorang.
Buya Hamka (1908-1981) mengatakan “Belum berarti pengakuan iman kalau belum tiba di puncak tawakkal” bahkan tawakkal merupakan syarat keimanan seseorang, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziah “Seseorang belum dikatakan beriman, sebelum ia bertawakkal kepadanya” seperti firman Allah SWT : Berkata Musa Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkal kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri. (QS. Yunus : 84)
Di dalam pelajaran Tasawwuf, tawakkal yang paling rendah tingkatannya adalah merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang dijanjikan Allah SWT, peringkat yang kedua, menyerahkan urusan kepada Allah SWT, dan maqam yang paling tinggi ridha dan rela menerima segala ketentuan Allah SWT.

Dalam konteks keberimanan kita di Indonesia, tauhid pekerja sangat dibutuhkan, bahkan dalam mendapatkan pekerjaan itu sendiri, substansinya adalah pendalaman dan penerapan tawakkal kepada Allah SWT, sehingga semua aktivitas yang dilakukan bernilai ibadah dan para pekerjanya.,apapun pekerjaannya jadi pekerja yang baik, dan bermentalitas tangguh, seperti halnya burung yang menjelajah kesana kesini dengan ikhlas tanpa ada sedikitpun ada rasa ketergantungan kepada makhluk. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** ( H.M. Nasir, Lc., MA : , Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batu Bara, Pembantu Rektor IV Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan, Ketua Majelis Ta’lim & Zikir Ulul Albab Sumut )

1 comment:

  1. Alhamdulillah, terimakasih tausyiahnya.
    InsyaAllah hadist tentang burung di atas banyak manfaatnya untuk memotivasi diri saya pribadi dan teman-teman lain.
    benarkah saya berpendapat bahwa cara kerja yang banyak mengandalkan insting seperti burung adalah cara kerja yang menggunakan otak kanan. Artinya bekerja dengan mengutamakan tindakan.Sedang otak kiri berfungsi atau bekerja pada saat melakukan tindakan- learning by doing.
    Syukron Pak Kyai.., Jazakallah khoiron katsiron.

    saiful hidayat
    saifulkt920@rocketmail.com

    ReplyDelete